#cssmenu ul li:nth-child(2) a:after { content: 'New'; font-size: 11px; background: red; padding: 5px 8px; margin: 0 0 0 5px; border-radius: 5px; }

Iklan

terkini

Opini: Hukum dan Cara Mengungkapkan Perasaan Bagi Perempuan

Redaksi
12/08/2021, 14:39 WIB Last Updated 2021-12-08T07:41:28Z
PENAPEDIA.com - Rasa adalah pemberian yang terlahir dan berakhir bersamaan dengan nyawa manusia. Sejak lahir manusia memiliki rasa, bahkan orang yang hilang akalnyapun rasa tetap ada bersama nyawanya, seperti marah, bahagia, sedih, rasa lapar, rasa ingin buang hajat, rasa kepanasan, dan rasa lainnya. Tak banyak yang dapat menyimpulkan definisi rasa yang sebenarnya. Rasa setiap manusia juga berkembang sebagaimana keadaan jiwa dan usia manusia. Seperti halnya rasa bagi setiap manusia yang mulai menginjakan garis baligh, dimana usia itu mulailah hadir rasa tertarik terhadap lawan jenis, atau perasaan ingin menikah dan hidup bersama dengan orang yang kita harap dalam doa, itu adalah perasaan rahmat yang normal bagi setiap manusia.

Apa yang seharusnya kita lakukan jika perasaan seperti itu mulai hadir?
Mungkin bagi laki-laki yang memiliki keberanian akan menyampaikan keinginan dan tujuan mulianya itu karena dianggap sudah sepatutnya dan sepantasnya bagi pandangan masyarakat. Namun bagaimana dengan perempuan? Kisah Adam dan Hawa yang saling tertarik dalam surga, namun ibu Hawa tetap memilih diam dan menunggu hingga nabi Adam menghampiri turun temurun dari generasi ke generasi hingga menjadi adat bahwa perempuan tak pantas jika ia mengungkapkan perasaan terhadap lawan jenis yang ia harapkan. Ada yang berkembang menjadikan perempuan harus menahan diri dengan perasaan dan hanya bisa berusaha dengan doa dan menunggu.
 
Lantas bagaimana jika perempuan berusaha mengungkapkan perasaan terlebih dahulu? Bagaimana pandangan islam dengan hukumnya? Dosakah ia?

Sedangkan dizaman yang semakin berkembang kini banyak perempuan yang tak hanya diam dan doa, namun juga berusaha mengungkapkan. Ketahuilah emansipasi perempuan tak hanya terjadi dizaman kekinian, bahkan dari zaman nabipun, itu sudah ada. Setiap segala sesuatu itu pasti terdapat pengecualiannya. Seperti halnya mengungkapkan perasaan diantara 100 perempuan, akan ada 1 perempuan yang diberikan keberanian untuk dapat mengungkapkan rasa. Dan hal serupa akan terjadi pada setiap masa. 

Jangan kau hujat perempuan dengan pandangan rendah karena tujuan mulia. Ketahuilah bahwa tak mudah bagi perempuan untuk melawan alam, namun juga berat baginya untuk terus memendam.

Dalam Islam tak pernah ada larangan bagi perempuan untuk mengungkapkan rasa, selama dalam garis tidak melanggar syariat. Bahkan seorang istri yang memulai untuk mengajak suaminya bersenang-senang itu mendapatkan pahala tersendiri. Seorang perempuan yang memulai mengungkapkan perasaan tertarik dan mengajak untuk hidup bersama dalam halal pun bukanlah suatu dosa. Dan bagaimana dengan pandangan manusia mengenai hal tersebut akan wajar jika dilakukan secara wajar dan baik pula. Coba simak dan pelajari bagaimana layaknya perempuan jika mengungkapkan perasaan tertarik yang dicontohkan oleh Ummul mukminin sayyidah Khadijah terhadap nabi Muhammad SAW.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa nabi Muhammad SAW adalah manusia paling sempurna akhlak, dan penciptaannya. Siapa yang tidak bisa tertarik padanya? Bagi para wanita Mekkah menikah dengan nabi Muhammad hanyalah mimpi yang tidak mungkin tercapai. Karena wanita tidak terbiasa menawarkan diri pada laki laki, kecuali lelaki itu juga tertarik padanya. Sementara kepribadian nabi Muhammad sangat jauh dari mengejar cinta hawa semata.
 
Sayyidah Khadijah melihat sendiri bagaimana akhlak dan kesungguhan nabi Muhammad dalam bekerja. Semuanya menjadikan hatinya sejuk, dan berharap jika saja harapannya terwujud. Setiap hari sayyidah Khadijah melihat bagaimana kesempurnaan akhlaknya, kelembutan bicaranya, namun ia belum memiliki cara untuk menawarkan diri untuk menikahinya. Sayyidah Khadijah masih diliputi rasa trauma, belum bisa membayangkan jika saja lamarannya ditolak. Hidup yang dipenuhi angan angan seringkali lebih menakutkan ketika bertemu kenyataan. Sedangkan bersabar sampai angan angan menjadi kenyataan lebih ringan daripada tergesa gesa menggapai padahal belum ada kejelasan bukti.

Salah satu hal yang menjadikannya trauma karena rasa takut bernasib sama seperti putri pamannya; Ruqayyah binti Naufal. Konon ia pernah memberanikan diri menawarkan dirinya kepada ayahanda nabi; Abdullah sebelum menikah dengan Aminah. Mendengar itu wajah Sayyid Abdullah memerah, lalu menyampaikan alasan bahwa dirinya belum sanggup untuk menerima tawaran itu. Kejadian tersebut masih sangat berengaruh terhadap putri pamannya.

Sayyidah Khadijah adalah perempuan yang sangat teguh memegang prinsip dan otoritasnya. Berkali-kali ia menolak lamaran orang yang datang ingin mempersuntingnya. Rata-rata orang yang datang berasal dari tokoh dan pembesar Quraisy. Keputusan utama ada pada pendapat sayyidah Khadijah dan semuanya bisa menerima keputusan Khadijah. 

Tetapi akhir-akhir ini bayangan tentang Muhammad benar-benar menguasai fikiran Khadijah. Beliau memiliki posisi yang berbeda di hatinya dibanding tokoh-tokoh Quraisy yang melamarnya. Memang benar nabi Muhammad adalah orang yang benar-benar berhak untuk mendapatkan segala sifat kebaikan, pujian, dan penghormatan. Nabi Muhammad memiliki segala bentuk kesempurnaan baik fisik maupun akhlak. Dan itu tidak diragukan lagi bahkan itu menjadi alasan logis yang bisa diterima oleh orang yang sedang ditolak lamarannya.

Penjelasan tentang kesempurnaan sifat dan akhlak nabi tidak diragukan lagi di manapun, wajar saja perempuan sekelas Khadijah sangat terpesona dengan ke elo kan sifat dan akhlak beliau. Hati kecil Khadijah tidak mampu menyembunyikan gejolak yang ada di hatinya, tidak mampu menyembunyikan rasa letak cup dan kekaguman atas pribadi nabi Muhammad. Semua itu tampak dari roman muka Khadijah. Para kerabat dan sahabat terdekat Khadijahpun merasakan betul hal tersebut. Ia seolah menutupi rasa hatinya, dan hal itulah yang membuat sahabat-sahabatnya ingin menyampaikan hal tersebut kepada nabi Muhammad. 

Dalam hadits Ibnu Syihab berkata, Rasulullah bersabda; "ketika kami pulang dari Habasyah saya berkata kepada teman saya, mari kita pergi ke rumah Khadijah. Di tengah pembicaraan tiba-tiba seorang budak perempuan bernama Muntasyiyah masuk ke rumah Khadijah. Melihat kami ia berkata: 
"Apakah ini Muhammad? Demi Allah kedatangannya pasti untuk melamar".
"Bukan begitu" tukas Khadijah.
Setelah kami keluar, temanku berkata, "Apa karena masalah tadi Khadijah menjadi malu?". Dilain waktu kami kembali lagi bersama temanku, lagi lagi budak itu masuk dan berkata seperti yang dulu. Segera Khadijah menimpali "Bersikap malulah sedikit". 

Hal itu menjadi beban tersendiri bagi saudari Khadijah, Hallah. Melihat Khadijah tidak segera mengutarakan keinginannya, maka ia mencoba membantu untuk mewujudkan keinginannya. Tekadnya bulat, ia akan mencari nabi Muhammad dan berusaha menyampaikan isi hati Khadijah kepada beliau, yang telah lama terhalang karena tingginya wibawa yang beliau miliki.  Setelah itu ia ingin menyampaikan hasilnya langsung kepada Khadijah, dengan begitu ia bisa membantu mewujudkan keinginan Khadijah.

Hingga suatu ketika, iya melihat nabi Muhammad berjalan bersama sahabatnya, Ammar bin Yasir. Ia segera berjalan di belakangnya. Akan tetapi, rasa seenggannya terhadap nabi Muhammad menghalangi untuk mengutarakan tujuannya. Ia hendak memanggil nabi Muhammad, namun ketika hendak memanggil namanya, ia menjadi gagap dan hanya mampu memanggil Ammar. Lantas Ammar mendatanginya, nabi muhammad melanjutkan perjalanannya dan tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Halah dan Ammar. Nabi Muhammad membiarkan keduanya menyelesaikan pembicaraan, tetapi Ammar memotong pembicaraan dan terus segera menyampaikan kepada nabi tentang pesan yang ingin disampaikan Hallah, bahwa ia menyuruhku untuk berkata kepadamu "Apakah kamu ingin menikah dengan Khadijah?".
Nabi menjawab " Ia, tentu"
Mendengar jawaban dari nabi, Ammar kembali kepada Halah dan menyampaikan hasilnya.
Halah menjadi tenang, namun ia belum memikirkan cara bagaimana menyampaikan kabar tersebut kepada saudarinya, Khadijah. Tetapi Khadijah terlanjur mengetahui apa yang dilakukan saudarinya, dan justru memarahinya, karena caranya yang salah. Tetapi Halah segera meredakan kemarahan saudari nya dan menyatakan bahwa nabi Muhammad akan segera datang. Menurut Halah "siapa laki-laki yang tidak ingin mempersunting Khadijah? Masyarakat Mekah juga tahu, bagaimana para tokoh Quraisy mencoba mendekati Khadijah untuk mempersuntingnya. 

Hari terus terlalu, namun nabi Muhammad tak kunjung datang untuk memberi jawaban. Padahal jarak rumah nabi dan Khadijah tidak terlalu jauh. Jika Khadijah mau, tentu ia akan memberitahunya sendiri atau mengutus utusan yang akan menyampaikannya. Begitu juga dengan perilaku Halah yang tidak memberitahu sebelumnya bahwa ia ingin menyampaikan tujuannya kepada nabi, jika saja Khadijah mengetahui tentu ia sendiri yang akan berbicara.

Hal tersebut tidak begitu menjadi masalah serius bagi nabi, seolah sudah dilupakan begitu saja dan beliau kembali pada rutinitasnya. Sementara Khadijah, kemarahannya kepada Halah tidak berhenti. Hal tersebut terus terjadi sampai orang terdekat Khadijah (Nafisah binti Munyah) menemuinya. Ia bersedia menjadi perantara antara dirinya dan nabi, dan akan segera kembali membawa kabar yang meyakinkan. Khadijah hanya diam, seolah dia merelakan atas tindakan Nafisah. Nafisah menyiapkan cara terbaik untuk menemui nabi, karena ia akan menjadi perantara utama antara Khadijah dengan nabi Muhammad. 

Suatu ketika, Nafisah melihat nabi Muhammad berjalan bersama salah seorang sahabatnya. Ia memberanikan diri memanggil nabi dan menemui beliau lantas berkata; "Wahai Muhammad apa yang menghalangi mu untuk menikah?". 
Dari pertanyaan ini, terlihat bagaimana kecerdasan Nafisah. Terlebih dahulu iya ingin mengetahui alasan nabi belum menikah. Apakah beliau sudah memiliki ikatan dengan kerabatnya, atau lebih memilih membujang dulu. Ketika nabi tidak memberikan alasan yang masuk akal, maka nafisah akan memberikan pertanyaan selanjutnya. 
Tetapi nabi Muhammad menjawab "Saya tidak memiliki sesuatu untuk menikah". 
Sampai disini, Nafisah mengetahui sebab utama mengapa beliau belum menikahi Khadijah. Nafisah segera memberikan jawaban tegas, memperjelas masalah, dan menghilangkan masalah utamanya. "Itu bukan masalah, saya menawarkan kepadamu seorang wanita yang kaya, cantik, mulia, dan setara denganmu, apakah kamu tidak mau?" 
Nabi menjawab "Siapakah dia?"
Jawaban ini menunjukkan bahwa permasalahan pernikahan bukan menjadi problem utama. Ia juga tidak terlalu raport memikirkan batasan kriteria yang diinginkan nabi, karena jawabannya terbatas pada kata "siapa dia". 
" Khadijah" jawab Nafisah
" Lalu, bagaimana cara saya menikahinya?" 
Nafisah langsung menjawab " Saya yang akan mengurus itu, yang pasti kamu mau menikah dengannya".
Nabi Muhammad belum menyiapkan pembicaraan sebelum ini. Karena itulah rasa malu beliau menghalangi nya untuk memulai melamar Khadijah. Beliau juga tidak ingin menyampaikan sesuatu yang diperkirakan tidak disetujui pihak Khadijah. 
Nafisah sukses menyelesaikan urusannya. Iya diliputi rasa gembira yang tiada tara. Tidak diragukan bahwa Khadijah sudah menunggunya, dengan cemas, antara berharap, berdoa, dan menunggu. Nafisah datang memberi kejutan, dengan wajah berseri-seri ia memberi selamat kepada Khadijah. Nafisah mengerjakan tugasnya dengan baik, dan membawa kabar gembira atas persetujuan nabi untuk menikahinya. 

Nabi Muhammad pergi menuju masjidil haram dan melakukan thawaf tujuhkali. Tiba-tiba budak Khadijah datang, dan meminta nabi untuk segera menemui majikannya. Mendengar itu, nabi segera ke rumahnya, sedangkan Khadijah masih tidak yakin dengan semua yang terjadi. Khadijah menyambut kedatangan nabi dengan penuh penghormatan dan kegembiraan, ia telah mempersiapkan diri untuk bertanya secara langsung kepada nabi tentang masalah pernikahan, dan mendengar jawaban yang indah tersebut keluar dari orang yang sangat yang muliakan.

"Wahai Muhammad apakah kau tidak ingin menikah?" Khadijah bertanya.
"Dengan siapa?" Nabi menjawab.
"Saya" jawab Khadijah.
"Mana mungkin saya menikahimu?" Nabi menegaskan.
Mendengar jawaban tersebut Khadijah menjawab; "Wahai anak pamanku, saya menyukaimu karena kekerabatanmu, kemuliaanmu ditengah kaumu, amanahmu, bagusnya akhlakmu, dan kejujuran ucapanmu".
Mendengar itu nabi menerima tawaran tersebut. Lantas Khadijah berkata " Pergilah kepada pamanmu, dan katakan padanya, segerakan pernikahan kita besok".

Cerita diatas sangatlah menginspirasi. Terutama bagi para kaum wanita yang menantikan datangnya seorang imam yang mereka dambakan,, namun tidak bisa mengungkapkan. Pelajaran yang dapat kita petik tentang cara dan adab bagaimana kita menyampaikan perasaan, tak serta merta disampaikan secara langsung, kita harus menyusun strategi dan alasan untuk menyampaikan perasaan. Dan tentunya harus menyiapkan hati untuk menerima jawaban apapun yang ditakdirkan.

Semangatlah bagi kalian para wanita yang sedang memendam dan memperjuangkannya lewat doa. Jangan biarkan perasaanmu menguasai hawa nafsu dan membuatmu melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan, yang dapat merusak citra perempuan.
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Opini: Hukum dan Cara Mengungkapkan Perasaan Bagi Perempuan

Terkini

Topik Populer

Iklan